Sabtu, 16 November 2019

Analisis Keuangan Bersertifikat untuk Perkembangan Ekonomi Indonesia

"Analisa Keuangan Bersertifikat untuk Pergantian Ekonomi Indonesia INFO BISNIS - Keadaan perekonomian Indonesia ke depan masih dalam kondisi baik. Perubahan itu, menurut Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Reza Anglingkusumo, disebabkan karena beberapa aktor ekspor Indonesia dapat kerjakan penyesuaian dengan cepat, mengingat pasar ekspor Indonesia terhitung cukup berbagai bila dibandingkan dengan negara ASEAN lain. Selain itu, cukup tingginya investasi buat jadi neraca perdagangan masih surplus dan persediaan devisa masih tinggi. Dunia pasar modal dalam waktu keemasan. Terutamanya jika mengacu pada beberapa pencapaian rekor di sepanjang 2017, mulai level tertinggi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tertinggi penghimpunan dana, sampai banyaknya investor yang tembus lebih dari 1 juta. “Saat ini, fundamental ekonomi Indonesia cukup solid dan likuid,” kata Reza dalam acara Ngobrol@TEMPO bertajuk “Seberapa Penting Analisis Keuangan Terpercaya untuk Pergantian Ekonomi Indonesia ke Depannya?”, akhir minggu lalu, di Financial Club, Graha CIMB Niaga, Jakarta. Bukan sekedar Reza, ada pula Direktur Penambahan Bursa Efek Indonesia (BEI) Nicky Hogan dan Direktur Penting PT Garuda Indonesia juga sekaligus Presiden CFA Pahala Nugraha Mansury, dengan Tomi Aryanto dari Tempo jadi moderator. Pada 2017, dinamika bagian keuangan semakin menarik minat masyarakat Indonesia. Mulai instrumen investasi, pengaturan asset dan utang negara, pengaturan keuangan pribadi atau perusahaan, tren financial technology, ekonomi digital, sampai ide perusahaan untuk melantai di bursa, merger, serta akuisisi. Dan dalam lima tahun akan tiba, dinamika serta ketertarikan orang Indonesia pada keuangan diperkirakan makin bertambah. Bermakna, ada kepentingan menambahkan banyaknya analis keuangan di Indonesia. Saat ini, analis keuangan di Indonesia yang memiliki sertifikasi berskala internasional masih sedikit. Untuk sertifikasi Chartered Financial Analyst (CFA), pemegangnya baru sekitar 170 orang. “Indonesia masih kekurangan analis keuangan yang memiliki sertifikasi berskala internasional. Pemegang sertifikasi CFA jumlahnya baru sekitar 170 orang. Indonesia tertinggal jauh dengan Singapura yang memiliki 2.000 profesional pemegang CFA. Jadi, tidak bingung jika peningkatan dan produk service keuangan di Singapura itu mempesona,” papar Pahala. Untuk penambahan pasar modal nasional, Indonesia membutuhkan minimum 1.000 analis keuangan bersertifikat CFA. Karena dengan bertambahnya pemegang sertifikat CFA akan menggerakkan perubahan investor domestik, terutamanya dalam penetrasi pasar dan memberi pandangan berinvestasi di pasar modal dengan baik. “Bursa Efek Indonesia mengincar dapat jadi pasar saham terbesar di Asia Tenggara pada 2020. Untuk sampai target itu, Indonesia membutuhkan 200 ribu (single investor idendtification) aktif dan 19 ribu pialang saham atau broker dealer. Sebenarnya, saat ini kompetensi sumber daya manusia (SDM) jadi diantaranya halangan pergantian pasar modal Indonesia. Salah satunya, SID Investor Saham yang tidak sesuai pialang saham yang ada,” ucap Direktur Penambahan BEI Nicky Hogan. Saat ini, minat untuk mendapatkan CFA mulai makin bertambah, terutamanya didominasi generasi muda yang umumnya masih duduk di bangku kuliah. Pemegang sertifikat CFA memiliki tingkatan yang juga sama dengan gelar master of business administration (MBA) dan dibutuhkan bukan sekedar terbatas di pasar modal, tapi dapat di konsultan, perbankan, dan perusahaan sekuritas. (*) "" "

Tidak ada komentar:

Posting Komentar